PAMEKASAN – Industri Hasil Tembakau (IHT) di Madura kini berada di ambang krisis. Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah mengaku terancam menghentikan produksi akibat tekanan berlapis yang mereka rasakan, menyusul maraknya operasi penegakan hukum yang dinilai berlangsung secara represif dan minim pendekatan pembinaan. Di tengah situasi ini, para petani tembakau dan buruh lokal ikut merasakan dampak langsung, bahkan mulai menyuarakan kekhawatiran atas masa depan ekonomi mereka. Selasa (10/02/2026)
Di balik jargon penegakan aturan, sejumlah pengusaha IHT menilai terdapat sikap arogansi yang justru mematikan semangat pelaku usaha baru yang tengah merintis. Operasi yang dilakukan secara tiba-tiba, tanpa dialog maupun pendampingan yang memadai, membuat banyak pelaku usaha merasa diperlakukan sebagai pelanggar yang harus ditindak, bukan sebagai potensi ekonomi yang perlu diarahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para pengusaha IHT pemula mengaku berada dalam situasi sulit. Di satu sisi, mereka berupaya memenuhi ketentuan regulasi yang kompleks dengan keterbatasan modal dan pemahaman. Di sisi lain, mereka menghadapi tekanan dari operasi yang dianggap tidak memberikan ruang pembinaan. Kondisi ini bukan hanya memicu kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak pada psikologis pelaku usaha yang semakin kehilangan kepercayaan diri untuk melanjutkan usaha.
“Setiap hari kami berjuang menjaga produksi tetap berjalan. Tapi ketika operasi datang tanpa penjelasan dan pembinaan, rasa takut langsung muncul. Usaha yang baru tumbuh seolah dipaksa berhenti sebelum berkembang,” ungkap salah satu pelaku IHT yang enggan disebutkan namanya.
Keresahan serupa juga dirasakan para petani tembakau. Mereka menilai keberlangsungan IHT sangat menentukan stabilitas ekonomi daerah. Rantai industri tembakau yang melibatkan petani, buruh, hingga pelaku distribusi membuat sektor ini menjadi tulang punggung penghidupan masyarakat di Madura. Jika IHT terhenti, maka dampaknya akan menjalar luas, mulai dari menurunnya serapan hasil panen hingga meningkatnya pengangguran.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

























