“Kami datang untuk bayar pajak sesuai aturan resmi. Tapi begitu masuk area, selalu diminta bayar parkir. Kalau tidak bayar, rasanya seperti dikejar petugas parkir yang berkeliaran. Ini pelayanan publik atau pemalakan terselubung?” ujarnya dengan nada kesal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut MA, yang membuat masyarakat semakin jengkel adalah tidak adanya kejelasan soal dasar hukum parkir tersebut. Warga tidak tahu siapa pengelolanya, ke mana uangnya masuk, dan apakah pungutan itu resmi atau tidak. Ketidakjelasan ini memunculkan dugaan bahwa praktik tersebut berpotensi menjadi pungli yang dinormalisasi.
“Fenomena ini dinilai berbahaya jika terus dibiarkan. Ketika pungutan liar dianggap hal biasa di ruang pelayanan negara, maka yang tergerus bukan hanya uang masyarakat, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah. Pelayanan publik yang seharusnya bersih dan transparan justru dipersepsikan sebagai ruang kompromi dengan praktik-praktik tidak sehat,” paparnya
MA berharap ada tindakan tegas dari pengelola Samsat, pemerintah daerah, maupun aparat penegak hukum untuk mengklarifikasi dan menertibkan sistem parkir di lingkungan tersebut. Transparansi mengenai tarif, dasar hukum, dan pihak pengelola dinilai menjadi langkah awal untuk menghapus dugaan pungli yang telah lama beredar di tengah masyarakat.
“Jika benar terjadi, maka praktik parkir berlangganan yang diduga mengarah pada pungli ini bukan sekadar pelanggaran kecil, melainkan alarm serius bagi integritas pelayanan publik di Pamekasan. Pembiaran terhadap praktik semacam ini hanya akan memperkuat kesan bahwa pungli telah bertransformasi dari pelanggaran menjadi kebiasaan,” pungkasnya.
Publik kini menunggu respons tegas dan terbuka dari pihak terkait. Apakah dugaan ini akan ditelusuri secara serius, atau kembali tenggelam sebagai keluhan rutin yang berlalu tanpa penyelesaian. Di tengah tuntutan reformasi pelayanan publik, masyarakat berharap negara hadir bukan hanya dalam bentuk aturan, tetapi juga dalam ketegasan menjaga keadilan bagi warganya.
Halaman : 1 2

























