Namun, dalam pandangan Islam, semua hari adalah sama baiknya, dan seorang Muslim dituntut untuk senantiasa beribadah, beramal saleh, serta menjauhi larangan Allah di setiap waktu. Konsep kesialan hari, menurut Islam, adalah bentuk syirik karena mengalihkan keyakinan akan takdir dan kuasa Allah kepada benda atau waktu tertentu.
“Seorang Muslim sejati harus percaya bahwa setiap takdir datangnya dari Allah SWT. Mengaitkaasib baik atau buruk dengan hari tertentu adalah keyakinan yang bertentangan dengan tauhid,” tambah Ustaz Naufal.
Meskipun tidak ada amalan khusus, umat Islam tetap dapat melakukan ibadah-ibadah umum pada hari Selasa, seperti shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, menuntut ilmu, atau melakukan kebaikan laiya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pentingnya adalah konsistensi dalam beribadah dan berbuat kebaikan, bukan mengkhususkan ibadah pada hari tertentu tanpa dasar syar’i. Dr. Ahmad Fauzan menambahkan, “Fokus utama seorang Muslim seharusnya adalah memaksimalkan setiap hari sebagai ladang pahala. Baik itu Senin, Selasa, Rabu, atau hari laiya, setiap detik adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Islam mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada hari tertentu melainkan pada kualitas ibadah dan akhlak kita setiap saat.”
Pada akhirnya, hari Selasa, seperti hari-hari laiya, adalah anugerah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Tiap hari adalah peluang untuk meningkatkan kualitas diri, berinteraksi positif dengan sesama, dan memperbanyak amal saleh.
Pemahaman yang benar tentang posisi hari Selasa dalam Islam membantu umat Muslim terhindar dari takhayul dan mitos yang tidak berlandaskan ajaran agama, serta memperkuat fokus pada esensi ibadah yang menyeluruh dan berkesinambungan.
Halaman : 1 2

























