JATIMZONE – Di tengah pesatnya laju urbanisasi dan kepadatan penduduk, Ruang Terbuka Hijau (RTH) muncul sebagai elemen krusial yang tidak hanya memperindah lanskap kota, tetapi juga berfungsi sebagai paru-paru vital dan penyeimbang ekosistem perkotaan.
Keberadaan RTH menjadi urgensi bagi pemerintah kota, akademisi, dan masyarakat untuk mengatasi berbagai tantangan lingkungan serta meningkatkan kualitas hidup warga di pusat-pusat metropolitan yang kian sesak.
Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan kini didorong untuk lebih serius mengalokasikan dan mengembangkan RTH, demi menciptakan kota yang layak huni dan berkelanjutan di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Percepatan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan populasi di area perkotaan seringkali mengorbankan lahan-lahan hijau.
Namun, pakar tata kota dan lingkungan sepakat bahwa keberadaan RTH adalah sebuah keharusan, bukan lagi kemewahan. RTH meliputi taman kota, hutan kota, area sempadan sungai, jalur hijau jalan, hingga taman permukiman.
Fungsi utamanya sangat beragam, mulai dari menyerap polusi udara, menghasilkan oksigen, mengatur suhu mikro kota, hingga menjadi area resapan air yang krusial untuk mencegah banjir.
Menurut Prof. Dr. Arya Wibisono, seorang pakar perencanaan kota dari Universitas Pembangunan Jaya, RTH bukan sekadar elemen estetika kota, melainkan infrastruktur vital yang menopang keberlanjutan kota.
“Tanpa RTH yang memadai, kota akan kehilangan kapasitasnya untuk bernapas, menyeimbangkan siklus hidrologi, dan menyediakan kualitas hidup layak bagi warganya,” tegas Prof. Arya.
Ia menambahkan bahwa perbandingan ideal RTH publik dan privat di sebuah kota adalah sekitar 20% dan 10% dari luas wilayah, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
“Pencapaian angka ini menjadi tantangan besar, terutama di kota-kota yang sudah padat, namun bukan tidak mungkin dengan inovasi dan komitmen politik yang kuat,” ujarnya.
Selain manfaat ekologis, RTH juga memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kualitas hidup sosial dan mental masyarakat.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

























