JATIM ZONE – Para ahli gizi dan kesehatan semakin gencar menyuarakan peringatan terkait konsumsi Monosodium Glutamat (MSG) atau yang akrab disebut micin, terutama dalam jumlah berlebihan.
Meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan badan kesehatan internasional seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat menggolongkan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang umumnya aman (Generally Recognized As Safe/GRAS) dalam takaran wajar, kekhawatiran muncul saat zat penyedap ini dikonsumsi secara berlebihan, khususnya melalui makanan olahan yang tidak sehat.
Peringatan ini menyoroti potensi dampak jangka panjang pada kesehatan, mulai dari gangguan metabolisme hingga risiko penyakit kronis yang lebih serius, mendorong konsumen untuk lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsi makanan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Membongkar Mitos dan Fakta Seputar MSG
MSG, atau natrium glutamat, adalah garam natrium dari asam glutamat, salah satu asam amino non-esensial yang banyak ditemukan secara alami dalam berbagai makanan seperti tomat, keju, jamur, dan rumput laut.
Fungsi utamanya sebagai penambah rasa umami, memberikan sensasi gurih yang khas pada makanan.
Popularitas MSG melonjak sejak penemuaya di Jepang pada awal abad ke-20, dan kini menjadi bahan umum dalam industri makanan olahan, mi instan, keripik, serta masakan rumahan.
Namun, seiring waktu, MSG juga diselimuti berbagai kontroversi. Salah satu yang paling terkenal adalah “Chinese Restaurant Syndrome” (CRS) atau kini lebih sering disebut “MSG Symptom Complex”.
Gejala yang dilaporkan meliputi sakit kepala, mual, mati rasa, kesemutan, jantung berdebar, hingga nyeri dada setelah mengonsumsi makanan yang kaya MSG.
Meski banyak penelitian telah dilakukan, hubungan langsung antara MSG dan CRS masih menjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan, dengan sebagian besar studi menunjukkan bahwa gejala yang dialami bersifat ringan dan sementara, serta tidak selalu konsisten pada semua individu.
“Penting untuk dipahami bahwa MSG sendiri, dalam dosis yang wajar, telah terbukti aman untuk dikonsumsi. Masalahnya bukan pada MSG itu sendiri, melainkan pada kebiasaan konsumsi makanan yang cenderung tinggi MSG,” terang Dr. Siti Rahayu, SpGK, seorang ahli gizi klinis terkemuka.
“Makanan yang banyak mengandung MSG, seperti mi instan, makanan cepat saji, dan camilan kemasan, seringkali juga tinggi garam, gula, dan lemak tidak sehat. Kombinasi inilah yang berbahaya bagi kesehatan jangka panjang.”
Dampak Jangka Panjang yang Mengintai
Kekhawatiran utama para ahli gizi adalah bukan efek akut setelah mengonsumsi MSG, melainkan implikasi jangka panjang dari pola makan yang kaya MSG dan umumnya tidak seimbang.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

























