Lebih jauh, Imron menilai, fenomena Gigo menunjukkan adanya lubang besar dalam pengawasan aparat. Produksi dengan skala besar mustahil berlangsung tanpa sepengetahuan pihak berwenang.
“Kalau Gigo bisa beredar bebas sampai ke kota, publik tentu berhak menduga ada pembiaran atau bahkan keterlibatan pihak tertentu,” tegasnya.
Selain merugikan negara, rokok ilegal Gigo juga menimbulkan risiko kesehatan serius. Tanpa standar produksi dan pengawasan mutu, kandungan bahan di dalamnya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang lebih berbahaya, Gigo banyak dikonsumsi anak usia sekolah. Padahal pemerintah pusat sedang berusaha keras menurunkan angka perokok anak,” ujar Imron.
Kasus Gigo kini menjadi ujian integritas bagi aparat Bea Cukai, Kepolisian, dan Pemkab Pamekasan. Jika tidak ada langkah nyata, maka bisnis rokok ilegal akan semakin kokoh dan kepercayaan masyarakat terhadap negara semakin terkikis.
“Gigo hanyalah satu contoh. Tapi kalau pemerintah gagal menindak tegas, pesan yang sampai ke publik jelas: jaringan mafia rokok ilegal lebih kuat daripada negara,” pungkas Imron. (*)
Halaman : 1 2

























