“Makanan seperti itu bukan untuk manusia, layaknya buat hewan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Dekkir, penyedia dapur MBG di Desa Samaran, membantah tudingan itu. Ia menyebut makanan yang disajikan sudah sesuai standar dan diawasi ahli gizi.
“Saya sebagai mitra hanya menyiapkan dapur. Masakan itu ada bagiannya sendiri, termasuk pengawasan ahli gizi,” ujar Dekkir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, program MBG merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto yang juga bertujuan menyerap tenaga kerja. Meski demikian, ia mengaku akan menjadikan keluhan wali murid sebagai bahan evaluasi.
“Ke depan kita harus lebih waspada. Harus dilihat lagi, penyebabnya apakah dari nasi goreng, susu, atau kombinasi makanan tertentu,” ucapnya.
Hingga berita ini diturunkan, ahli gizi dapur MBG di Desa Samaran, Hayati, belum memberikan keterangan meski sudah diupayakan konfirmasi. (*)
Halaman : 1 2

























