Maman menegaskan, kasus ini harus menjadi pembelajaran penting bagi seluruh perusahaan media agar lebih berhati-hati dan menghormati keberagaman nilai sosial-keagamaan di Indonesia.
“Kebebasan pers tidak boleh digunakan untuk melecehkan simbol-simbol agama atau tokoh-tokoh yang dihormati masyarakat. Media seharusnya menjadi sarana edukasi dan perekat sosial, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
Diketahui, melalui program “Xpose”, Trans7 menayangkan video yang memperlihatkan sejumlah santri dan jemaah menyalami seorang kiai yang sedang duduk, serta cuplikan seorang kiai turun dari mobil mewah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang menuai sorotan adalah narasi suara (voice over) dalam tayangan itu, yang menyebut santri “rela ngesot” demi menyalami dan memberikan amplop kepada kiai. Narator juga menyebut bahwa seharusnya kiai yang sudah kaya memberikan amplop kepada santri.
Cuplikan tayangan tersebut langsung menuai reaksi keras di media sosial. Sejumlah warganet mengecam isi tayangan dan menyerukan boikot terhadap Trans7.
Halaman : 1 2

























