Pemerintah Targetkan Swasembada Gula, Petani Tebu Hadapi Tantangan Berat

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 13 Agustus 2025 - 07:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmeya untuk mencapai swasembada gula nasional, sebuah target ambisius yang sangat bergantung pada peningkatan produksi tebu di dalam negeri.

Namun, upaya ini dihadapkan pada berbagai tantangan serius yang terus membayangi para petani tebu di sentra-sentra produksi, mulai dari perubahan iklim ekstrem hingga fluktuasi harga pupuk, yang berpotensi menghambat tercapainya tujuan tersebut.

Target swasembada, yang diharapkan mampu menekan angka impor dan menstabilkan harga di pasar domestik, menjadi sorotan utama dalam agenda ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Industri gula di Indonesia memiliki sejarah panjang dan merupakan salah satu sektor vital yang menopang perekonomian, khususnya di daerah pedesaan.

BACA JUGA :  Lautan Massa Sambut H. Khairul Umam di Blumbungan, Istighatsah Akbar Jadi Simbol Dukungan Petani Tembakau

Tebu (Saccharum officinarum), sebagai bahan baku utama, bukan hanya sumber gula konsumsi, tetapi juga menghasilkan biomassa untuk energi dan berbagai produk turunan laiya.

Potensi besar ini sayangnya masih belum tergarap optimal. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa meskipun luas lahan tebu cukup signifikan, produktivitas per hektare masih perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi kebutuhan gula nasional yang terus meningkat seiring pertambahan populasi.

Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi petani tebu adalah dampak perubahan iklim. Musim kemarau panjang yang disusul dengan curah hujan ekstrem secara tidak menentu telah merusak pola tanam dan menurunkan kualitas tebu.

“Perubahan iklim ini musuh utama kami. Kekeringan bisa mematikan bibit, tapi kalau hujan terlalu lebat justru membuat kadar rendemen tebu turun drastis,” ujar Dewi Sartika, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) wilayah Jawa Timur.

BACA JUGA :  Pemerintah Ajak Masyarakat Konsumsi Buah Lokal, Tingkatkan Kesehatan dan Ekonomi Petani

Ia menambahkan, kondisi ini diperparah dengan harga pupuk dan biaya operasional laiya yang terus merangkak naik, sementara harga jual tebu di tingkat petani seringkali tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

“Perubahan iklim ini musuh utama kami. Kekeringan bisa mematikan bibit, tapi kalau hujan terlalu lebat justru membuat kadar rendemen tebu turun drastis.” Ujar Dewi Sartika, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) wilayah Jawa Timur.

Selain faktor alam dan biaya produksi, tantangan lain juga datang dari sisi pasca-panen dan pengolahan. Banyak pabrik gula (PG) yang sudah tua dengan mesin-mesin yang ketinggalan zaman, mengakibatkan efisiensi penggilingan rendah dan rendemen yang tidak maksimal.

BACA JUGA :  Gudang Garam Bantah Isu PHK Massal di Pabrik Tuban

“Revitalisasi pabrik gula adalah kunci. Percuma tebu melimpah kalau pengolahaya tidak efisien. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan secara sinergi antara pemerintah, BUMN gula, dan swasta,” jelas Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, Kepala Pusat Penelitian Tebu Nasional (PPTN), dalam sebuah diskusi daring baru-baru ini.

Menanggapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai program telah diluncurkan untuk mendukung petani tebu dan industri gula nasional.

Follow WhatsApp Channel jatimzone.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Macan Ompong?” Bea Cukai Madura Disemprot Aktivis Soal Pita Cukai Ilegal
Babinsa Larangan Turun Tangan Bantu Petani, Percepat Persiapan Tanam Kedua di Taraban
Lautan Massa Sambut H. Khairul Umam di Blumbungan, Istighatsah Akbar Jadi Simbol Dukungan Petani Tembakau
Babinsa Pademawu Turun Tangan Bantu Petani Bersihkan Padi Kering, Perkuat Ketahanan Pangan Desa
Momen Bahagia Putri Kades Banjar Talela Sampang, Akad Nikah Digelar 14 April 2026
Babinsa Larangan Dampingi Panen Padi, Mini Combine Harvester Permudah Petani di Taraban
Babinsa Larangan Turun Tangan Bantu Petani Jemur Gabah, Jaga Kualitas Hasil Panen
Baru Beraksi, Langsung Tersungkur! Curanmor Masjid Dibekuk 7 Jam oleh Polres Sampang

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 11:49 WIB

“Macan Ompong?” Bea Cukai Madura Disemprot Aktivis Soal Pita Cukai Ilegal

Senin, 13 April 2026 - 10:25 WIB

Babinsa Larangan Turun Tangan Bantu Petani, Percepat Persiapan Tanam Kedua di Taraban

Minggu, 12 April 2026 - 12:15 WIB

Lautan Massa Sambut H. Khairul Umam di Blumbungan, Istighatsah Akbar Jadi Simbol Dukungan Petani Tembakau

Jumat, 10 April 2026 - 12:16 WIB

Babinsa Pademawu Turun Tangan Bantu Petani Bersihkan Padi Kering, Perkuat Ketahanan Pangan Desa

Kamis, 9 April 2026 - 06:20 WIB

Momen Bahagia Putri Kades Banjar Talela Sampang, Akad Nikah Digelar 14 April 2026

Berita Terbaru