JAKARTA – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmeya untuk mencapai swasembada gula nasional, sebuah target ambisius yang sangat bergantung pada peningkatan produksi tebu di dalam negeri.
Namun, upaya ini dihadapkan pada berbagai tantangan serius yang terus membayangi para petani tebu di sentra-sentra produksi, mulai dari perubahan iklim ekstrem hingga fluktuasi harga pupuk, yang berpotensi menghambat tercapainya tujuan tersebut.
Target swasembada, yang diharapkan mampu menekan angka impor dan menstabilkan harga di pasar domestik, menjadi sorotan utama dalam agenda ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Industri gula di Indonesia memiliki sejarah panjang dan merupakan salah satu sektor vital yang menopang perekonomian, khususnya di daerah pedesaan.
Tebu (Saccharum officinarum), sebagai bahan baku utama, bukan hanya sumber gula konsumsi, tetapi juga menghasilkan biomassa untuk energi dan berbagai produk turunan laiya.
Potensi besar ini sayangnya masih belum tergarap optimal. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa meskipun luas lahan tebu cukup signifikan, produktivitas per hektare masih perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi kebutuhan gula nasional yang terus meningkat seiring pertambahan populasi.
Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi petani tebu adalah dampak perubahan iklim. Musim kemarau panjang yang disusul dengan curah hujan ekstrem secara tidak menentu telah merusak pola tanam dan menurunkan kualitas tebu.
“Perubahan iklim ini musuh utama kami. Kekeringan bisa mematikan bibit, tapi kalau hujan terlalu lebat justru membuat kadar rendemen tebu turun drastis,” ujar Dewi Sartika, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) wilayah Jawa Timur.
Ia menambahkan, kondisi ini diperparah dengan harga pupuk dan biaya operasional laiya yang terus merangkak naik, sementara harga jual tebu di tingkat petani seringkali tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
“Perubahan iklim ini musuh utama kami. Kekeringan bisa mematikan bibit, tapi kalau hujan terlalu lebat justru membuat kadar rendemen tebu turun drastis.” Ujar Dewi Sartika, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) wilayah Jawa Timur.
Selain faktor alam dan biaya produksi, tantangan lain juga datang dari sisi pasca-panen dan pengolahan. Banyak pabrik gula (PG) yang sudah tua dengan mesin-mesin yang ketinggalan zaman, mengakibatkan efisiensi penggilingan rendah dan rendemen yang tidak maksimal.
“Revitalisasi pabrik gula adalah kunci. Percuma tebu melimpah kalau pengolahaya tidak efisien. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan secara sinergi antara pemerintah, BUMN gula, dan swasta,” jelas Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, Kepala Pusat Penelitian Tebu Nasional (PPTN), dalam sebuah diskusi daring baru-baru ini.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai program telah diluncurkan untuk mendukung petani tebu dan industri gula nasional.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

























