JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian dan lembaga terus menggencarkan kampanye berhenti merokok di seluruh lapisan masyarakat.
Langkah ini diambil sebagai upaya serius menekan angka prevalensi perokok, mengurangi beban penyakit tidak menular (PTM) akibat rokok, serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dengan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Kampanye ini tidak hanya berfokus pada bahaya rokok, tetapi juga menawarkan solusi dan dukungan bagi mereka yang ingin memulai hidup bebas asap rokok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa rokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab berbagai PTM mematikan, seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Data BPJS Kesehatan juga menunjukkan bahwa biaya perawatan PTM akibat rokok menghabiskan triliunan rupiah setiap tahuya dari anggaraegara, menjadi beban berat bagi sistem kesehataasional.
Ancaman Senyap di Setiap Tarikan
Dokter spesialis paru, Dr. Retno Wulandari, Sp.P., menjelaskan bahwa rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya 250 bersifat toksik dan 70 di antaranya bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
“Setiap tarikan rokok memasukkan racun ke dalam tubuh, merusak sel demi sel, organ demi organ, secara perlahaamun pasti. Risiko penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali lipat, stroke 2-4 kali lipat, dan kanker paru hingga 25 kali lipat bagi perokok aktif,” ujar Dr. Retno dalam sebuah seminar kesehatan di Jakarta.
Bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun turut terancam. Asap rokok yang terhirup oleh orang di sekitar perokok juga mengandung zat-zat berbahaya yang sama, menyebabkan peningkatan risiko PTM pada anggota keluarga atau rekan kerja yang tidak merokok.
Anak-anak dan bayi sangat rentan terhadap paparan asap rokok pasif, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, infeksi telinga, hingga sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).
Manfaat Nyata Berhenti Merokok
Meskipun dampak rokok begitu merusak, tubuh memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan diri setelah seseorang berhenti merokok. Manfaatnya bahkan dapat dirasakan dalam hitungan menit setelah rokok terakhir dimatikan.
- 20 menit: Denyut jantung dan tekanan darah kembali normal.
- 12 jam: Kadar karbon monoksida dalam darah kembali normal.
- 2 minggu – 3 bulan: Fungsi paru-paru meningkat dan risiko serangan jantung mulai menurun.
- 1-9 bulan: Batuk dan sesak napas berkurang, energi meningkat.
- 1 tahun: Risiko penyakit jantung koroner berkurang separuhnya dibandingkan perokok.
- 5 tahun: Risiko stroke sama dengaon-perokok. Risiko kanker mulut, tenggorokan, dan kerongkongan berkurang separuhnya.
- 10 tahun: Risiko kanker paru berkurang separuhnya dibandingkan perokok aktif.
- 15 tahun: Risiko penyakit jantung koroner sama dengaon-perokok.
“Berhenti merokok adalah investasi terbaik untuk kesehatan jangka panjang. Bukan hanya memperpanjang usia, tapi juga meningkatkan kualitas hidup. Anda akan merasakan lebih banyak energi, indra penciuman dan perasa lebih tajam, serta penampilan fisik yang lebih baik,” tambah Dr. Retno.
Dukungan Pemerintah dan Kisah Inspiratif
Pemerintah Indonesia melalui berbagai program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Puskesmas menyediakan layanan konseling berhenti merokok secara gratis.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

























