Biaya yang dikeluarkan untuk membangun dan memelihara satu set sound horeg lengkap bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Ini bukan sekadar hobi, melainkan sebuah bisnis yang menjanjikan, terutama saat musim hajatan atau perayaan.
Para pemilik sound system harus terus berinovasi, mengikuti tren teknologi audio terbaru, dan menjaga kualitas peralatan mereka. Ini juga mendorong munculnya bengkel atau workshop khusus modifikasi sound system di berbagai daerah, menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.
Dari perakitan kotak speaker hingga instalasi kabel raksasa, semua dikerjakan dengan penuh dedikasi untuk mencapai satu tujuan: menghasilkan “horeg” yang maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Sosial, Ekonomi, dan Kontroversi
Kehadiran sound horeg di Jawa Timur membawa dampak multidimensional. Secara positif, ia menjadi magnet ekonomi, menarik ribuan penonton ke suatu acara, yang berarti peningkatan penjualan bagi pedagang kaki lima, pengusaha katering, hingga penyedia jasa parkir.
Ini juga menghidupkan pariwisata lokal jika acara tersebut menarik perhatian dari luar daerah. Bagi seniman musik dan DJ lokal, sound horeg adalah platform untuk menunjukkan bakat mereka. Lebih dari itu, ia memperkuat ikatan sosial, menyatukan masyarakat dalam kegembiraan dan kebersamaan.
Namun, tidak bisa dipungkiri, fenomena ini juga sarat kontroversi. Keluhan utama datang dari aspek kebisingan. Tingkat desibel yang sangat tinggi dapat mengganggu ketenangan warga, terutama yang tinggal di dekat lokasi acara, lansia, anak-anak, bahkan hewan peliharaan.
Potensi gangguan pendengaran dalam jangka panjang bagi penonton maupun operator juga menjadi perhatian serius. Beberapa insiden terkait getaran yang merusak struktur bangunan atau listrik yang tidak stabil juga pernah dilaporkan.
Hal ini menimbulkan dilema bagi pemerintah daerah: bagaimana menyeimbangkan antara memfasilitasi ekspresi budaya dan menjaga ketertiban serta kenyamanan masyarakat.
Upaya regulasi, seperti pembatasan jam operasional, tingkat volume, dan lokasi acara, terus diupayakan, meskipun sering kali berbenturan dengan antusiasme massa dan tradisi yang sudah mengakar.
Kesimpulan
Fenomena sound horeg di Jawa Timur adalah cerminan kompleksitas budaya modern yang berakar pada tradisi. Ia adalah perpaduan antara semangat kebersamaan, inovasi teknologi, dan geliat ekonomi lokal, yang diwujudkan dalam dentuman bass yang memekakkan.
Meskipun mampu membangkitkan euforia massa dan menggerakkan roda ekonomi, tantangan terkait kebisingan dan dampaknya terhadap lingkungan sosial tak bisa diabaikan.
Mencari titik temu antara kebebasan berekspresi budaya dan kebutuhan akan kenyamanan publik menjadi kunci bagi keberlanjutan fenomena ini.
Dengan regulasi yang bijak, kesadaran dari penyelenggara dan penikmat, serta inovasi yang lebih bertanggung jawab, sound horeg bisa terus bergemuruh, namun tetap dalam harmoni yang dapat diterima semua pihak, memastikan Jawa Timur tetap “horeg” namun dalam arti yang positif.
Halaman : 1 2

























