Salahuddin Al-Ayyubi, pendiri dinasti ini, dikenal sebagai pahlawan yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib. Untuk membangkitkan semangat jihad dan persatuan umat Muslim, Salahuddin mendukung perayaan Maulid Nabi yang berorientasi pada kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Sosok kunci dalam mempopulerkan Maulid Nabi di kalangan Sui adalah Raja Muzaffaruddin Gökböri, seorang gubernur dari Erbil (wilayah yang kini masuk Iraq) di bawah kekuasaan Ayyubiyah.
Pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi, Raja Muzaffaruddin mengadakan perayaan Maulid dengan sangat besar dan meriah. Ia mengundang para ulama, ahli tasawuf, dan masyarakat luas untuk berkumpul, membaca Al-Qur’an, melantunkan shalawat, berzikir, dan mendengarkan ceramah tentang sirah Nabi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ribuan domba disembelih, dan makanan dibagikan kepada fakir miskin. Perayaan ini menjadi simbol kecintaan kepada Nabi dan upaya untuk menyatukan umat Islam di tengah ancaman Perang Salib.
Dari Erbil, tradisi perayaan Maulid ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Islam laiya, termasuk Mesir, Suriah, Maroko, dan akhirnya ke seluruh penjuru dunia.
Berbeda dengan perayaan Fatimiyah yang berpusat pada politik, perayaan yang dipelopori oleh Raja Muzaffaruddin lebih menekankan aspek spiritual, edukatif, dan sosial, yang selaras dengailai-nilai Islam.
Perkembangan Maulid di Dunia Islam dan Indonesia
Seiring berjalaya waktu, perayaan Maulid Nabi terus berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal di berbagai negara. Di Indonesia, Maulid Nabi dikenal dengan beragam nama dan tradisi, seperti Sekaten di Jawa, Grebeg Maulud di Yogyakarta, atau Bakda Mulud di Madura.
Para Wali Songo memainkan peran penting dalam mengadaptasi perayaan ini sebagai sarana dakwah, menggabungkailai-nilai Islam dengan kearifan lokal untuk menyebarkan ajaran Islam secara damai.
Bentuk perayaan Maulid kini sangat beragam, mulai dari pengajian akbar, pembacaan shalawat Nabi seperti Barzanji dan Diba’, ceramah agama tentang sirah Nabi, santunan anak yatim dan fakir miskin, hingga pawai obor dan festival budaya.
Meskipun ada perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai hukum perayaaya, mayoritas umat Muslim melihat Maulid sebagai kesempatan emas untuk meneladani akhlak mulia Nabi, memperbanyak shalawat, dan mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.
Esensi perayaan ini tetap sama: mengenang, menghormati, dan mengambil pelajaran dari kehidupan teladaabi Muhammad SAW.
Dari ketiadaan perayaan di masa awal Islam hingga menjadi tradisi global yang meriah, sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW adalah cerminan dari dinamika dan adaptasi umat Muslim sepanjang masa.
Dimulai dari inisiatif politis Dinasti Fatimiyah, kemudian diangkat menjadi gerakan spiritual dan persatuan oleh Dinasti Ayyubiyah dan Raja Muzaffaruddin, Maulid kini telah menjadi ekspresi kolektif kecintaan umat kepada Nabi.
Terlepas dari perdebatan historis atau hukumnya, perayaan Maulid Nabi tetap menjadi momen penting bagi banyak umat Muslim untuk merenungkan kembali ajaran-ajaraabi, memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai Islam, dan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam meneladani suri tauladan Rasulullah SAW.
Halaman : 1 2

























