Di sisi lain, distribusi daging kurban yang merata juga sangat membantu masyarakat yang jarang menikmati daging, terutama di daerah pelosok.
Program kurban yang melibatkan peternak lokal juga turut menggerakkan ekonomi di tingkat hulu, menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan antara pekurban, peternak, dan penerima manfaat.
Prof. Dr. KH. Abdullah Mansur, Guru Besar Filantropi Islam UIN Jakarta, menjelaskan bahwa zakat dan kurban adalah dua pilar ekonomi Islam yang memiliki dimensi sosial-spiritual yang kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Zakat berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan dari yang mampu kepada yang membutuhkan, mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Sementara kurban, selain bentuk ibadah dan syukur, juga merupakan simbol kepedulian dan solidaritas sosial. Keduanya sangat relevan dalam upaya menciptakan masyarakat yang adil dan makmur,” jelasnya.
Beliau menambahkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas lembaga amil zakat agar kepercayaan publik terus terjaga dan dana dapat disalurkan secara efektif.
Peran teknologi juga sangat vital dalam peningkatan kesadaran berzakat dan berkurban. Berbagai platform digital dan aplikasi mobile kini mempermudah umat untuk menunaikan kewajiban ZIS dan ibadah kurban dari mana saja dan kapan saja.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menjangkau lebih banyak muzaki dan pekurban yang sebelumnya terkendala akses.
Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal literasi zakat di kalangan masyarakat dan perluasan jangkauan distribusi ke daerah-daerah terpencil.
Lembaga amil zakat diharapkan terus berinovasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memaksimalkan potensi zakat dan kurban demi pembangunan umat yang berkelanjutan.
Semangat Iduladha sebagai momentum untuk berbagi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kurban dan zakat diharapkan tidak hanya berhenti pada perayaan hari raya.
Namun, semangat ini diharapkan dapat terus berlanjut menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi umat secara berkelanjutan, menciptakan ekosistem filantropi Islam yang kuat dan mandiri.
Partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, didukung oleh transparansi dan inovasi lembaga pengelola, akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya dan sejahtera.
Halaman : 1 2

























